Banyak orang bilang, memulai usaha itu bagian yang paling menantang. Tapi jujur saja, mempertahankan usaha agar tetap jalan justru jauh lebih menguras pikiran. Pernah enggak Anda merasa jualan lagi ramai-ramainya, pelanggan datang silih berganti, Namun di akhir bulan, ketika saya ingin membeli lebih banyak barang, uang saya menipis atau bahkan habis.
Kalau Anda pernah atau sedang mengalami hal ini, tenang, Anda enggak sendirian. Di dunia UMKM, fenomena ini sering disebut sebagai "bocor alus". Uangnya ada, tapi entah menguap ke mana.
Nah, biar modal usaha Anda tidak mudah habis, yuk kita benahi cara ngatur duitnya pakai trik sederhana berikut ini.
Dompet Pribadi dan Dompet Dagangan Wajib Dipisah
Ini kesalahan nomor satu yang paling sering bikin usaha kecil gulung tikar. Mentang mentang warung atau toko milik sendiri, pas anak minta uang jajan atau pas token listrik rumah habis, kita main comot saja dari laci kasir.
Kebiasaan gabung duit kayak gini yang pelan pelan harus kita stop. Biar enggak kebablasan, ada dua cara gampang yang bisa langsung Anda coba:
- Bikin rekening terpisah Enggak perlu buka rekening baru yang biaya adminnya mahal. Cukup pakai dompet digital (E-wallet) khusus atau rekening bank gratisan buat menampung semua uang masuk dari pembeli.
- Anggap diri sendiri sebagai karyawan Tanamkan di pikiran kalau Anda itu cuma bekerja di sana. Jadi, jangan pernah usik uang di laci kasir hanya untuk keperluan belanja dapur rumah tangga.
Gaji Diri Sendiri, Jangan Ambil Semua Keuntungan
Lanjutan dari poin pertama, cara paling aman biar dapur rumah tetap ngebul tanpa mengganggu kas usaha adalah dengan menggaji diri sendiri.
Tentukan satu angka yang masuk akal sebagai "gaji" bulanan atau mingguan Anda. Jika keuntungan bersih usaha Anda Rp3 juta sebulan, ambil Rp1,5 juta atau Rp2 juta saja untuk keperluan pribadi Anda.
Sisanya? Biarkan tetap tinggal di dalam kas usaha sebagai cadangan modal atau biaya operasional ke depan. Dengan cara ini, Anda tahu batasan belanja pribadi dan usaha Anda punya ruang untuk berkembang.
Catat Pengeluaran Sekecil Apa pun (Jangan Andalkan Hafalan)
Ah, cuma beli kantong plastik sepuluh ribu, enggak usah dicatatlah. Kalimat inilah yang sering jadi bumerang. Duit sepuluh ribu kalau dikali tiga puluh hari itu sudah jadi tiga ratus ribu. Lumayan banget buat nambah stok barang, kan?
Manusia itu tempatnya lupa. Jadi, jangan pernah mengandalkan hafalan otak buat urusan duit bisnis.
Sediakan satu buku nota kecil atau pakai aplikasi pencatat keuangan gratisan di HP.
Catat semua uang keluar, mulai dari biaya parkir saat kulakan, beli lakban, hingga biaya bensin. Begitu Anda melihat totalannya di akhir bulan, Anda bakal kaget melihat ke mana saja uang kecil itu pergi.
Jangan Tergiur Belanja Stok Berlebihan karena Diskon
Sebagai pemilik usaha, kita pasti senang kalau supplier memberikan diskon besar jika kita beli barang dalam jumlah banyak. Tapi tunggu dulu, jangan langsung gelap mata. Sebelum borong barang, perhatikan dulu perputaran barang tersebut (cash flow). Untuk apa beli barang murah dalam jumlah ratusan kalau habisnya butuh waktu berbulan-bulan?
Itu namanya uang modal Anda "mati" atau mandek di dalam lemari stok.
Lebih baik beli secukupnya tapi barangnya cepat berputar jadi duit kembali, daripada beli banyak demi diskon tapi kas Anda langsung kering seketika.
Jadikan Ini Kebiasaan Baru
Ngatur keuangan usaha itu sebenarnya bukan soal bakat atau pintar matematika, melainkan soal kedisplinan dan kebiasaan sehari-hari. Memang awalnya bakal terasa ribet dan kaku, tapi percaya deh, begitu pembukuan Anda rapi, Anda bakal lebih tenang saat menjalankan usaha karena tahu persis ke mana perginya setiap rupiah yang Anda hasilkan.
Yuk, mulai rapi-rapi dari sekarang biar usahanya makin berkembang dan berkah!

0 Komentar